Sabtu, 27 November 2010

Teror Gaib Malam Pertama

Cerita horor ini terinspirasi oleh malam pertamaku. Karena malam itu tak berjalan mulus. Banyak keganjilan, atau kejadian diluar jangkauan akal sehat, hingga timbul banyak pertanyaan. Tiga minggu kemudian baru terjawab. Sebuah surat ancaman dari mantan pacar istriku. Dia kecewa dengan kehadiranku. Kekecewaan itu dilampiaskan di malam pertamaku, lewat teror gaib. Inilah ringkasan ceritanya.
Pesta pernikahan baru saja usai. Kamar pengantin masih terhias. Kamal, pengantin pria  belum bisa menggauli Narti, pengantin wanita. Dia hanya tertidur, pulas. Rasa lelah masih menyerangnya, setelah seharian berdiri di poade. Baru malam ketiga, dia mulai beraksi. Namun aksinya terganggu. Perasaan aneh muncul. Terasa ada orang lain yang hadir di kamarnya. Entah siapa dia tidak, karena di kamar itu tak ada orang lain. Malampun berlalu, tanpa sesuatu yang diperbuat.
Kembali Kamal beraksi dengan ditemani hujan rintik dan hawa dingin. Narti menanti aksi suami tercintanya. Namun aksi itu tak berlanjut, karena Kamal nampak seperti orang linglung. Apa yang terjadi pada Kamal. Wanita yang digaulinya nampak bukan istrinya, tetapi Kartika, mantan pacarnya. Untung saja dia tak sempat memanggil nama pacarnya itu. Kejadian itu berlangsung hingga menjelang subuh sampai akhirnya ngantuk menyerangnya. Ketegangan mulai menghantuinya.
Ketegangan masih menghantuinya. Kejadian malam sebelumnya masih mengiang dalam benaknya. Namun dia tetap harus menyelesaikan tugasnya sebagai seorang pengantin baru. Kembali keganjilan muncul. Selain ada seseorang yang hadir di kamarnya dan juga berkali-kali istrinya berubah menjadi Kartika, kini keganjilan lain, suara golok terasa dekat dengan telinganya. Menjadikan suara itu terasa ngilu dan menyakitkan. Malampun semakin mengerikan, ancaman selalu datang.
Itulah sebagian ringkasan dari naskah Teror Gaib Malam Pertama. Cerita ini sangat menegangkan, terlebih lagi aku yang mengalami. Cerita ini juga sangat mengerikan, karena pada malam berikutnya timbul keganjilan lain, diantaranya muncul kepala manusia berbendo, tangan manusia yang memanjang dan mencekik leher Kamal, serta masih banyak lagi keganjilan lain. Bagaimana jalan cerita sesungguhnya dan apa yang akan dilakukan Kamal, selengkapnya ada dalam naskah itu.

Misteri Hantu Penunggu WC Kampus

Kabar hantu penunggu kampus gentayangan sudah lama didengar Rudi. Belakangan kabar kemunculan hantu berwajah seram itu makin santer jadi bahan pembicaraan. Menurut kabar yang berhembus salah seorang mahasiswi putri Jumat Kliwon yang lalu mendadak jatuh pingsan di WC kampus. Kabarnya, dia kaget setengah mati ketemu hantu kampus.
Rudi semula tidak begitu menanggapi kabar burung yang ia sendiri belum pernah mengalami. Meski dalam hati kecilnya mengakui jika di dunia ini masih ada alam lain, alaming lelembut yang tidak selalu bisa dilihat dengan kasat mata. Sampai pula Rudi mendengar kabar korban jatuh yang kali ketiga, juga masih mahasiswi putri yang ditemukan pingsan di WC kampus.
Setelah siuman dia mengakui kaget bercampur takut setengah mati menyaksikan makhluk menyeramkan tiba-tiba muncul di WC yang berada di ujung bangunan kampus paling belakang. Mahasiswi itu jatuh pingsan, karena saking takutnya melihat sosok menyeramkan itu hendak mendekatinya.
“Ah, hantu yang saya lihat berwujud manusia. Cuma wajahnya amat menakutkan, ahh…saya tidak mau membayangkannya lagi,” tutur mahasiswi itu ketika ditanya Rudi. Keterangan yang didapat belumlah memuaskan, membuat Rudi semakin penasaran untuk mengungkap misteri di balik kemunculan hantu kampus.
“Sebagai orang beriman aku tidak boleh takut dengan lelembut macam apapun. Wong derajad saya sebagai manusia lebih tinggi dibandingkan ‘begundal-begundal’ itu,” bisik batin Rudi mengumpat hantu itu dengan sengit. Di kalangan mahasiswa Fakultas Kedokteran angkatan 1999 tempat Rudi menimba ilmu, keberanian Rudi berhadapan dengan lelembut memang bolehlah diacungi jempol.
Dia paling sering menunggui jenazah yang outopsi ketika ada praktik anastesi. Wajar saja berani, pasalnya ketika masih duduk di bangku SLTP dulu Rudi pernah masuk pondok pesantren. Amalan dan doa-doa untuk mengusir makhluk halus banyak yang dia kuasai. Lalu berhasilkan dia menguak misteri kemunculan hantu kampus ?
Kamis pagi itu Rudi mulai merencanakan bertemu dengan hantu. Awalnya, dia mencari keterangan pada beberapa warga yang tinggal di sekitar kampus, mencari asal-usul tempat yang kini dibangun kampus berada di pinggiran kota itu. Ada beberapa versi yang memberi keterangan berbeda. Kabar yang didapat tempat itu dulunya bekas penjagalan hewan, bekas kuburan kuno, dan kabar terakhir yang dia dengar tempat itu dulunya bekas markas pembantaian para gerombolan PKI ! Mana yang benar ?
“Aku harus membuktikan sendiri,” bisiknya lagi. Satu lagi kabar yang dia dengar dari warga setempat, beberapa tahun lalu sebelum dibangun kampus pada tahun 1984, warga sekitar sering ditemui sosok pria yang suka mondar-mandir di sekitar tanah lapang setempat tanpa kepala. Dibarengi dengan kemunculan sosok seorang wanita gemuk bertaring, dan pria berkulit hitam legam yang bisa keluar masuk tanah.
Sejauh ini misteri kemunculan sosok-sosok itu belum berhasil diungkap warga setempat. Upaya untuk melacak pernah dilakukan dengan memanggil orang pintar, namun tidak berhasil karena dia merasa kalah kuat dengan lelembut tersebut. Sampai kemudian Rudi bertemu dengan sesepuh kawasan tersebut, Mbah Karso.
Mbah Karso diam-diam sudah tahu maksud Rudi memintai keterangan warga. Dia sebagai warga yang sudah lama tinggal di tempat sekitar, pengakui salut terhadap jiwa muda Rudi. “Datang saja di tempat yang biasa dia muncul. Nanti kan Jumat Kliwon, mbah yakin di sana pasti sepi. Begundal-begundal itu pasti muncul,” ucap Mbah Karso membuat Rudi terkejut. Dari mana Mbah Karso tahu dia menjuluki lelembut itu ‘begundal’ ?
Pukul 21.00 WIB ketika suasana kampus mulai sepi. Terlihat dari kejauhan sesosok pemuda bertubuh tegap mengendap-endap mendekati bangunan WC ujung belakang kampus. Langkahnya pelan sambil kedua matanya tidak henti mengawasi setiap sudut bangunan. Menyelidik kemungkinan hantu yang bikin takut mahasiswi itu muncul.
Langkah dia terhenti di pojok belakang WC. Tatapan matanya nanar memandangi semak-semak di belakang WC. Sejenak itu dia menyelidik lalu kemudian duduk bersila, dan kedua matanya pun terpejam. Tidak ubahnya orang duduk bersemedi. Sekitar 10 menit berdiam diri, mendadak desiran angin malam berhembus tidak seperti biasanya.
Agak kencang dan terasa hanya di sekitar tubuhnya. Tiba-tiba pundaknya terasa seperti ditepuk dari belakang. Dia terkesiap, lalu menoleh ke belakang. Ternyata tiga sosok yang disebut-sebut hantu itu memandanginya nanar. Wajah mengerikan mengerikan sama seperti yang dituturkan para warga. “Tolong aku nak…tolong aku…,” ujar ketiganya sambil menunjuk semak-semak di belakang WC.
Jantung pemuda itu berguncang keras menatap hantu-hantu berwajah seram itu. Belum habis dia berpikir dari balik lorong WC muncul orang tua yang ringkih, Mbah Karso. “Biarkan dia Nak Rudi. Jangan diusik, dia tampaknya butuh pertolongan kita,” tutur pak tua itu. Tidak beberapa lama bayangan hantu itu berlahan-lahan hilang seiring keluarnya asap tipis. “Tolonglah aku malam ini juga…,” seru ketiganya sebelum menghilang. Rudi dan Mbah Karso bertatapan seperti tidak percaya dengan yang baru dilihat, di tempat sepi itu pun hanya tinggal dia berdua.
“Ayo bantu Mbah menggali semak-semak. Di situ pasti ada tulang mereka. Dia itu arwah mati penasaran. Dulu di tempat sini memang pernah tinggal sekeluarga, mereka mati dibunuh,” tutur Mbah Karso yang membuat Rudi semakin bertanya-tanya. “Anehnya, mayat mereka tidak ditemukan. Nah, mungkin mereka dikubur di situ,”.
Diakui Mbah Karso selama ini dia hanya diam mendengar kabar kemunculan hantu, karena merasa belum menemukan orang yang seperti Rudi. Pemberani dan selalu ingin tahu tentang misteri di balik kemunculan makhluk gaib. “Nah, itu warga sudah datang. Mereka pada datang ke sini setelah saya beri tahu,” paparnya.
Dalam sekejab tempat itu ramai dipenuhi puluhan warga yang ingin menyaksikan penggalian mayat yang pernah dikabarkan hilang puluhan tahun yang lalu. Tidak berapa lama semak-semak telah berganti galian. Dan, memang benar di dalamnya ditemukan tumpukan tulang belulang yang sudah rusak. Dalam hati Rudi bersyukur telah membantu menenangkan ketiga arwah. Terlebih lagi yang membuat dia lega, kejadian penggalian mayat itu tidak ada satu pun mahasiswa yang tahu.

Selasa, 23 November 2010

Diikutin Arwah Yang Sudah Meninggal

Hai aku Tari, aku pgn share cerita disini..! Maaph ya klo tulisannya belepotan :p mklum bru pertama kali..

Jadi gini critanya, waktu itu aku aku habis pergi dugem ma cwoku, pulang jam 4 subuh. Pda saat itu entah mengapa aku gak mau diantar sampe depan kostan, aku memilih di turunin di jalan raya. Dari jalan raya itu mau ke kostku harus lewatin gang! Nah pada saat itu ku fikir dah subuh juga, jadi aku ga takut.

Eh pas aku mau masuk gang biar lebih cepat sampe, pas aku liat dari ujung gang, alhamdulilah ada bapak2 duduk dari kejauhan. Aku seneng banget jadi ku ga takut karna masih ada org! aku senyumin tu bapak2,dan bapak itu pun senyum ama aku! Pas aku lewatin tu bapak, begitu aku nengok ke belakang, bapak2 itu udah gak ada!! aku bingung, koq secepat itu dia menghilang..

Pas sampe kostan, kebetulan ada temanku yg punya indera keenam. Temanku itu nanya ''Tadi pulang lwt mana?". Aku jawab lwat gang subur didekat roxy mas! Pas aku tanya ma temanku, emg knp?? Dia jwb gpp. Ya uda pas besoknya bulu tangan ama kakiku koq pada berdiri tegak smua, ak bingung napa koq siang2 aku merinding, uda ku siram pake air tapi buluku tetap berdiri tegak, habis itu aku langsung gak bisa jalan, pinggangku berat sekali. Mau ke kamar aja aku ampe merangkak karna memang benar2 gak bsa bangun, aku gerakin pun ga bisa!! Aku panik banget, aku tlp temanku yg punya indra keenam, dia memang bsa ngobatin.

Pas diterawang ama temanku, aku langsung bsa jalan... aku bersyukur banget.. Kata temanku waktu ku lwt gang subur itu, bapak2 yg aku lihat itu uda meninggal, dan kemaren meninggalnya ditembak ama polisi, tembaknya pas dipinggang!!

Thanks ya maaf ya kalo tulisannya berantakan :)

Misteri Arwah Saraswati

Memasuki Desa Rejo serentak kami semua terdiam. Suasana saat itu langsung berubah sunyi senyap, seakan-akan kampung itu tak berpenghuni. Mobil yang kami tumpangi berlima pun berjalan pelan seolah enggan memasuki desa yang berada di pesisir pantai selatan itu.
“Nah, ini dia kampungnya. Asyik juga. Wah aku berharap di sini punya pengalaman menarik yang seumur hidupku baru kali ini mengalami. Ketemu kembang desa kek, atau…,” belum selesai Heru merampungkan kalimat tersebut tiba-tiba kami serentak terkesima melihat ada seorang nenek-nenek berdiri di pinggir jalan. Tampak tangannya membawa lampu senthir, padahal hari masih siang.
“Sebaiknya kita berhati-hati jangan gegabah, kalau ngomong diatur soalnya kita tidak tahu adat di sini, lagi pula kita tidak tahu apakah mang Samin masih ingat aku, ” ujar Didik Arif. Kami yang berlima yakni Didik, Heru, Rio, Santo dan aku Dion, memang berniat mengisi liburan di desa mang Samin, mantan tukang kebun keluarga Didik. Desa Rejo terletak di tepi pantai selatan, merupakan desa yang masih alami dan belum terkontaminasi budaya asing.
Kami memutuskan untuk berlibur di sini karena cerita Didik yang menurut mang Samin, dia tinggal di desa yang alami, dan yang membuat kami tertarik untuk mengunjunginya adalah cerita tentang sebuah tebing yang indah dan siap untuk didaki. Dasar Heru, dia yang paling getol mengajak kami ke sana karena kami memang punya hoby panjat tebing. Akhirnya sampai juga di rumah sederhana
Yang asri. Dari dalam tampak tergopoh-gopoh lelaki paruh baya menyambut kami.
“Mas Didik, akhirnya datang juga mari, mari, silahkan,” sambut mang Samin sambil mengajak kami untuk langsung masuk ke rumahnya. “Enak juga yah suasana desa waktu sore, wah aku jadi langsung pengin jalan-jalan nih,” ajak Heru. Namun dengan gugup mang Samin segera mengajak masuk rumah dahulu dengan setengah memaksa, bahkan istrinya yang muncul kemudian malah langsung menggandeng tanganku untuk masuk ke dalam rumah.
Seusai mandi, dan istirahat sebentar langsung kami disuguhi makan malam. “Mang, ini kan masih sore, baru jam 6 kok sudah makan, nanti saja lah, aku pengin jalan-jalan,” ajak Heru tak sabaran. Tapi dengan sigap mang Samin segera melarang dan menyuruh makan dulu. “Oke deh, aku sudah lapar juga kok, eh mang tadi didepan desa aku melihat seorang nenek duduk di pinggir jalan tapi kok siang-siang menyalakan sentir yah, siapa dia mang,” ujar Didik.
“Makan dulu saja, nanti sehabis makan mamang akan ceritakan tentang desa ini dan aturan-aturannya,” ujar mang Samin. Dengan penuh penasaran akhirnya kami menikmati makan malam denga tergesa-gesa. Seusai makan sambil nyeruput wedang jahe suguhan kami duduk di ruang tengah untuk mendengarkan penjelasan mang Samin. “Mas, sebenarnya kedatangan mas-mas disini agak kurang tepat, mungkin kalau kalian memperhatikan sejak memasuki desa ini akan terasa aneh kan, ini karena beberapa hari ini arwah Saras muncul lagi,”. “Saras, siapa Saras mang,” tanyaku penasaran.
“Maaf mas, membicarakan asal usul Saras adalah tabu di desa ini, yang penting kita tidak boleh mengganggunya dan cara yang dilakukan oleh warga desa adalah dengan tidak keluar rumah selepas magrib dan tidak boleh berkata-kata kotor, tapi ini cuma terjadi selama sepasar (5 hari) saja setelah itu seperti biasa,” ujar mang Samin serius. Akhirnya, kami cuma melewatkan malam pertama dengan saling diam, walaupun ada guyonan malah terkesan hambar.
Esok paginya kita sudah siap pergi menuju tebing seperti yang dimaksud oleh mang samin, dengan diantar oleh mang samin akhirnya kami sampai ditempat tujuan. Sengaja mang samin hari itu libur ke ladang hanya untuk menunggui kami, sepertinya takut kalau-kalau kami terkena sesuatu. Dengan bentuk tebing yang masih asli, berjarak sekitar 100 meter dari garis pantai, pemandangannya begitu menakjubkan memandang hamparan pantai selatan dari atas tebing, karena dari dasar tebing kita tidak bisa melihat laut. Memang bentuk tebing sangat memudahkan pemanjat untuk mendakinya selain banyak tumpuan juga banyak cekungan untuk pegangan.
Heru sebagai leader (orang pertama, red) yang sampai atas sambil menunggu yang lainnya. Heru melihat-lihat sekeliling tempatnya berdiri, tak jauh dari tempatnya berdiri dilihatnya seorang gadis berdiri menghadap pantai duduk di atas batu. Bajunya khas orang desa dan didekatnya terdapat tenggok yang berisi singkong. ‘’Ah pasti dia gadis desa sini, tapi kok bisa sampai atas ya, lewat mana ?” pikir Heru. Kemudian dia menghampiri gadis itu dan menyapanya. “Pagi mbak, sendirian yah habis dari kebon ?,” sapa Heru sok ramah. “Iya,” jawabnya singkat. “Saya Heru dari Solo, mbak namanya siapa ?,” seloroh Heru lagi, muncul sikap playboynya. “Wati,” ucap gadis itu lirih sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. “Wah kesempatan nih, waduh tangannya halus banget tapi kok dingin, ya,’’ pikir Heru. “Kok bisa naik ke atas, lewat mana ?,”. Pertanyaan Heru itu cuma dijawab dengan arah telunjuk Wati yang menuju jalan kecil terjal dipinggir bukit. Tiba-tiba. “Her, ngapain kamu, eh malah cengar-cengir kok aku tidak bantu naik,” teriak Rio yang kedatangannya disusul oleh Dion.
“Hoi sini dong aku dapet kenalan cewek cantik nih, sini,” teriak Heru. Tapi, “Lho mana Wati, kok hilang, wah pasti gara-gara kalian Wati pergi,” ujar Heru sambil memandang jalan terjal yang mungkin dilalui Wati. Selepas siang kami pulang ke rumah mang Samin lagi dan cerita Heru ketemu dengan Wati agaknya tidak terdengar lagi dari mulut Heru. Hingga malam tiba, mendadak tubuh Heru menggigil kedinginan tapi tubuhnya panas.
“Her kenapa kamu wah, susah kalau bawa anak mami, pasti dia kangen ibunya,” kelakar Santo. Tapi mang samin menanggapinya lain. “Apa yang terjadi dengan kalian diatas tadi ?,” tanya mang Samin. “Tidak ada apa-apa kok, entah kalau Heru,” ujar Santo. “Eh, ya, tadi Heru bilang ketemu dengan gadis bernama siapa Rio?,”. “O,Wati” sahut Rio. Tiba-tiba wajah mang Samin dan istrinya berubah, seperti ketakutan. “Mas kalian tunggu sebentar di sini yah, tapi aku minta ditemani salah satu dari kalian untuk keluar sebentar,” ujar mang Samin tambah membuat kami heran.
“Sudah nanti saya ceritakan,” akhirnya Didik yang pergi menemani mang Samin dan sebentar kemudian mereka datang bersama dengan mbok Nah, dikenal sebagai tabib di desa tersebut. Setelah diberi japa mantra akhirnya tubuh Heru jadi tenang dan hilang sesak panasnya. “Tolong setelah siuman minumkan ramuan ini, sudah saya mau langsung pulang tidak usah diantar,” ujar mbok Nah.
Heru masih belum sadar, sepertinya tidur. Akhirnya mang Samin bercerita, kalau gadis yang dtemui Heru bernama Wati tersebut tak lain adalah Saras, alias Saraswati. Dan, hingga Heru kejang seperti itu pasti karena Heru telah menyentuh tubuh Saraswati. “Jangankan bersalaman, menyentuh saja sudah terkena sawab-nya, tapi untung belum parah jadi masih bisa tertolong, dan nenek yang kalian temui di depan desa itu adalah ibu Saraswati. Dia masih hidup tapi kurang waras, dia selalu menyalakan lampu kerena ingin mencari anaknya siang maupun malam,” terang mang Samin.
“Tapi Saras tidak kejam, hanya sebatas menggoda saja,” imbuhnya. “Kalau boleh tahu siapa Sarawati pak, kenapa bisa jadi begitu,” tanya Dion. Mang Samin takut menceritakan kisah Saraswati pada malam hari, setelah esok pagi baru dia cerita tentang Saraswati. Tuturnya, dia seorang anak yang lahir dari hubungan wanita desa setempat dengan seorang pria pendatang. Namun setelah Saraswati tumbuh menjadi seorang gadis dewasa sang ayah yang bejat malah memperkosanya dan akhirnya Saraswati bunuh diri nyemplung laut. Ayahnya sendiri tewas dihakimi massa. Kisah tersebut sudah terjadi sejak 10 tahun yang lalu, tapi sang ibu Saraswati sampai sekarang masih belum ketemu mencari anaknya.

Akibat Dendam Demit Penunggu Pekarangan

Kejadian ini dialami keluarga Rohman (31) warga Sampangan Semarang. Gara-gara membuang air panas sembarangan anak Rohman tertimpa bencana. Begitu air seember dibuang ke pekarangan belakang rumah, mendadak anak laki satu-satunya yang masih berumur 5 tahun menjerit-jerit kelojotan.
Rohman menyaksikan keganjilan itu tidak habis pikir. Dedy, anak laki-lakinya itu meronta-ronta kepanasan. Padahal, sedikit pun tidak terlihat bekas luka mendera di tubuhnya. Dari sore hingga esok harinya, tangisnya tidak pernah berhenti. Tentu bikin kelimpungan Rohman dan istrinya. Berbagai bujuk rayu dilakukan, tapi semuanya seperti sia-sia. Bahkan, pagi itu kondisi Dedy makin mememburuk.
Kejadian ini dialami, sore itu ketika saat magrib tiba, Rohman membuang air panas bekas rebusan jagung di belakang rumahnya. Usai membuang di pekarangan yang tidak dirawat hingga tumbuh semak-semak liar itu, ia pun berangkat ke masjid yang berada tidak jauh dari rumahnya. Magrib itu Rohman melakukan salat berjamaah.
Namun, begitu dia turun dari masjid beberapa tetangga menjemputnya. Dia mendapatkan berita tidak baik. Anaknya tanpa sebab yang pasti tiba-tiba meronta tidak karuan. Persis seperti cacing yang kepanasan. “Aduh..panas…panaaassssssss…,” teriak anaknya itu. mendapat penderitaan si anak, ia lantas memanggil beberapa keluarganya untuk ikut menentramkan Dedy.
Tapi, lagi-lagi upaya yang ditempuh tidak membuahkan hasil. Sampai pagi hari segala upaya untuk menenangkan Dedy tidak ada hasil. Baru siang harinya ada kerabat yang mengusulkan agar dicarikan pengobatan alternatif ke orang pintar. Melihat kejadiannya yang tanpa sebab, keluarga Rohman percaya jika penyakit Dedy tidak wajar.
Dugaan itu ternyata benar. Paranormal yang didatangi Rohman mengatakan, jika anak balitanya mendapat penyakit akibat amarah dedemit. Konon, saat Rohman membuang air panas di semak-semak belakang rumah, ada makhluk halus yang sedang bermain-main. Akibatnya, sekujur tubuh dedemit melepuh dan kelojotan tidak karuan. Sama persis seperti yang dialami Dedy.
Sakit akibat pembalasan si demit ternyata tidak juga dilepas, sebelum Rohman menyadari kekhilafannya dan meminta maaf pada lelembut yang tinggal di belakang rumahnya itu. “Iya Ki… saya memang salah. Air panas itu seharusnya saya buang ke kamar mandi. Bukan di tempat sembarangan. Saya sanggup meminta maaf,” ujar Rohman mengakui kesalahannya pada orang pintar itu.
Meski Rohman bersedia meminta maaf tapi pernyataan dia tidak cuma diungkapkan lewat batin dan kata-kata. Berdasarkan hasil interaksi orang pinter dan si demit, ungkapan minta maaf itu harus dibarengi dengan pemberian sesaji yang diletakan di belakang rumahnya. Oleh si Mbah Dukun itu diputuskan sesaji yang diminta demit akan diberikan asalkan tidak berupa tumbal nyawa manusia.
Sesuai dengan permintaan yang diminta, Rohman menyediakan sesaji berupa kembang telon, bakaran menyan, telur ayam kampung, dan umbarambe lainnya. Ternyata benar, setelah seluruh prosesi permintaan maaf sudah dipenuhi, tidak lebih 5 menit penyakit yang diderita Dedy tiba-tiba hilang dengan sendirinya.
Selebihnya Rohman kepada demit minta agar tidak menggunakan perkarangan sebagai tempat tinggal. Untung saja si demit cukup baik hati, di dengan serta merta mau meninggalkan pekarangan rumah Rohman asalkan, semak belukar yang tumbuh liar di pekarangan itu dibersihkan. Kata si demit, tempat yang tidak terawat dan banyak semak belukar cukup menggiurkan dirinya untuk mendiaminya.
Sadar dengan kesalahan yang nyaris membuat celaka anak semata wayangnya, ingatan Rohman ketika itu langsung tertuju pada petuah-petuah yang pernah dia terima dari orang tua dulu. Kakek dan nenek Rohman dulu, selalu mengingatkan jangan sembarang membuang sesuatu pada saat magrib. Kabarnya pada waktu menjelang malam itu, para dedemit pada keluar dari sarangnya untuk mencari makan.
Nah, sepertinya si demit penunggu pekarangan belakang rumah Rohman bermaksud keluar sarang untuk mencari makan. Sialnya, bukan makanan empuk yang bisa dia santap, melainkan air panas yang mengguyur sekujur tubuhnya yang mungil. Karena merasa kepanasan dan bercampur jengkel, dia murka dengan langsung menurunkan kutukan pada anak Rohman.

Menginjak Hantu Kepala dekat Jembatan

Sebenarnya pengalamanku ini sudah lama banget, kira-kira pertengahan tahun 2003. Tapi apabila saya teringat masalah ini saya malah jadi takut sendiri terkadang untuk pergi ke toilet pun saya jadi takut.
Waktu itu saya sedang mengikuti perkemahan di Kopeng, Salatiga. Saya dan teman-teman yang ikut adalah kontingen pramuka asal Kota Semarang. Pada suatu malam, saya dan teman-teman maen-maen gitar. Biasalah namanya juga anak muda. Kalau siang tidur, malamnya maen-maen. Dasar kelelawar!
Setelah siang harinya berlatih, malamnya kami lewatkan bersama dengan bermain gitar, bernyanyi, bakar ikan dan ada juga yang dipojok-pojok berpacaran, tapi jangan salah mereka hanya berbicara doang. Gak lebih!
Setelah capek bermain gitar, kami berencana pergi ke warung terdekat untuk membeli makanan atau apa gitu. Nah ketika inilah hal itu terjadi. Saat itu waktu sudah jam 23.00 menjelang tengah malam.
Kebetulan kalau pergi ke warung,kami harus melewati jembatan yang sama sekali gak ada penerangan. Ketika melewati jembatan itu, awalnya kami merasa biasa saja. Tapi lama-kelamaan karena kami hanya beberapa orang, mulai muncul rasa ketakutan aneh.
Ketika rasa takut itu memuncak, salah seorang teman saya tanpa sengaja menginjak sebuah benda bulat berambut yang setelah kami lihat secara dekat ternyata…..kepala orang!!
Kami langsung lari pontang-panting gak jelas gitu karena ketakutan yang sangat. Keesokan harinya barulah kami dapat cerita dari penduduk dekat situ bahwa di daerah itu memang sudah sering ada kejadian menyeramkan seperti itu karena dulu-dulunya ada orang yang mati mengenaskan di daerah itu. Maklum daerahnya memang sepi penduduk, serta hanya ada hutan belantara.

Cerita Horror Minggu ini

Hari Rabu tanggal 10 November, arza bangun dalam keadaan hangat g kayak biasanya... tapi mungkin hanya anget2 biasa. Tapi habis mandi trus maem kok semakin panas ya dan arza juga mulai rewel. Aku tetep positif thinking ajah, aku susuin terus si arza. Puncaknya pas dhuhur,, badannya arza panasss trus pup 2 kali (biasanya cuma sekali sehari)banget trus dia udah g mau ditaruh. gendong terus tapi masih mau mimik dan ketawa2.

Akhirnya dibawa ke RS deh, buru2 bgt ampe g semapt ganti jilbab yang agak bagusan.. sampe di RS langsung dicek dan panasnya arza udah 39 derajat celcius..haduh,,, sedih.. Trus aku bilang ke dokternya klo arza mencret. Sama tuh dokter ditanya; mencret dulu atau panas dulu.. karena bisa aja dia panas karena badannya kekurangan cairan akibat mencret.. Aku jawab: panas dulu.. Akhirnya si dokter meresepkan 2 obat, tadinya mau dikasih vitamin tambahan tapi karena masih ASI jadinya g perlu deh vitaminnya (hidup ASI).

Sampai rumah, ayah g mau kasih obatnya katanya kasihan arza tapi setelah konsultasi sama saudara yang dokter akhirnya tuh obat panas dikasih plus kompres dan cek suhu badan tiap 4 jam. Waktu minum obat adalah saat paling horor dari ini semua..disembur2, dilepeh2..sedikit sekali yang masuk... sedih, akhirnya disusuin aja mana arza pup terus ampe 8x sehari....

Malamnya, berharap arza bisa tidur nyenyak setelah minum obat, tapi mulai jam 12 malam, arza bangun tiap jam untuk pup.....huhuhuhuhu...sedihnya, ampe nangis ngelihat arza lemes karena g bisa bobok dan pup terus, badannya ampe lemas gitu. Walopun masih mau nyusu dan aku tambahin air putih biar dia g kekurangan cairan. Mana tanggal 11 kita bertiga harus ke Magelang....huhuhu,,,sediiiihhh banget.

Tanggal 12 november, arza udah g panas tapi pup-nya masih 5x dan sudah mulai ceria lagi...Alhamdulillah. Tapi masih dikasih obat mencretnya dan ada yang lucu nih; dia jadi suka ma obatnya, ampe mangap2 klo diminumin...he5x ada2 ja nih anakku. Tanggal 13 arza masih pup 4x sehari dan hari ini cuma 2 x, Alhamdulillah lagi deh...

Hari ini arza sudah kembali seperti biasa, maemnya juga lahap tapi sisa2 sakit kemarin masih ada...kolokannya.. sekarang klo bobo harus gendong dulu.. Gpp deh, yang penting arza sehat selalu...

Cerita Horror di Pematang Siantar

saat usiaku 8 ato 9 thn, sekitar kelas 5 SD.
Kejadian ini terjadi dikapung halaman ku di Pematang siantar. suatu kotamadya di sumatera utara, dekat kota Medan.
Sewaktu kecil kami adalah keluarga sejahtera dan berkecukupan dan memiliki rumah yg besar namun tidak bertingkat.
dengan memiliki 3 kamr tidur.
Tapi memasuki umur 8 tahun, usaha ayahku bangkrut karena ditipu oleh saudara sendiri,malah cenderung memiliki hutang. Jadi ayah ku ngungsi ke sebuah desa yg sangat sepi selama beberapa tahun.
Singkat cerita rumah yang kami tempati sekarang disita oleh bank dan harus segera dikosongkan.
Kami pun mulai mengosongkan rumah dimana semua barang2 dipindahkan kerumah kontrakan kecil di dalam gang sempit.
Listrik PLN dan PAM dirumah ini pun juga telah diputus sehingga kalo malam sangat gelap gulita.
Tapi karena ada beberapa barang termasuk ranjang besi yg belum dipindah, maka aku beserta abangku yg berumur 13 tahun masih menempati walau kalo malam gelap sekali kondisinya.
Jadi kami tidur malam selalu memegang senter.
Ranjang kami adalah ranjang besi 2 tingkat dimana tingkat atas beralaskan kayu lembaran sebagai tatakannya tidak ditidurin lagi karena cuman kami ber 2 saja yg tertinggal menjaga rumah ini.Ranjang tersebut jg merapat kedinding sebelah dalam kamar.
Hari ke 3 kami tinggal sendirian di rumah tersebut aku mengalamin kejadian ini yg sampai sekarang jika teringat masih suka merinding.

pada saat sekitar jam 2 tengah malam aku terbangun dikarenakan abang ku bangun dari tempat tidur tersebut yg menimbulkan bunyi menderit.
Aku perhatikan abangku tersebut berdiri disamping tempat tidur dan berjalan dua langkah kedepan persis sampai didepan pintu kamar dan membuka pintu tersebut.
Aku berpikir dia akan ke kamar mandi untuk kencing. Tak mau ditinggal sendirian dikamar yg super gelap, akupun buru2 ikut berdiri untuk mengikuti nya sambil menyalakan senter yg selalu kupegang.
Tapi herannya pintu kamar tersebut ditutup kembali tanpa abangku berjalan keluar. Tidak jadi..pikirku.. tapi sejurus kemudian celana dibuka dan dia kencing disana, di pintu kamar tidur tersebut...
Ini pasti ngelindur atau mimpi berjalan pikirku. "biarlah, toh ini bukan rumah kami lagi" acuh ku sambil kembali ke tempat tidur lagi sambil menunggu abangku tersebut kembali tidur.dan ternyata benar.. dia kembali naik ketempat tidur..
mata kupejamkan sambil menunggu kantuk datang....
Tidak bisa tidur jg ...mata kubuka dan melihat kekayu pembatas tempat tidur diatasku yg berjarak sekitar satu meteran sambil berhayal besok akan menempati rumah kontrakan kecil berkumpul bersama ibuku.
Nah ,saat itulah terdengar suara srek..srek...seperti suara orang sedang menyikat baju atau lantai.. ahh..dari rumah sebelah pikirku..tapi terus didengar kok dekat sekali suara tersebut.aku bergeser diatas tempat tidur mendekati dinding dimana tempat tidur bersender dan menempelkan telinga kedinding. Suara tersebut kencang sekali , pasti ada tikus nih dibawah ranjang sedang menggigit kayu.
Iseng karena gak bisa tidur dan bermaksud mengusir tikus tersebut aku bergeser ke arah berlawanan untuk menunduk lsg kebawah ranjang melihat...Gelap..Senter kuarahkan ke kekolong dan kunyalakan... astaga....sepotong tangan dengan asiknya memegang sebuah sikat kayu sedang asik menyikat dindiing sebelah bawah bergerak naik turun...
Lsg aku meloncat kembali ke tempat tidur dan memeluk abangku yg malam itu entah mengapa tidur seperti mayat saja..
Tiba2 suara tersebut berhenti dan keadaan kembali sunyi... tapi senter tetap kunyalakan sambil berlindung didalam selimut.
Nah suara muncul suara lain yg berderit. Berpikir itu suara pintu yg dibuka abangku yg mau keluar kamar lsg selimut kusingkap untuk ikut kabur keluar. Tapi astaga... abangku masih tertidur disampingku karena senter kuarahkan kedia.
Suara berderit terdengar lebih keras.... dari atas tempat tidur ini..seperti suara kayu beradu dengan besi tempat tidur ketika ada yg tidur diatas ranjang kayu tersebut..tanpa sadar lsg senter kuarahkan keatas ranjang dan langsung kuperhatikan arah suara tersebut... untuk kedua kalinya aku tak dapat memalingkan wajah dan bergerak karena..... dari kayu2 alas tempat tidur diatas keluar sebuah kepala dengan cara menembus kayu tersebut dari atas, langsung wajahnya menghadap kebawah...menghadap aku yg dalam keeadaan terlentang menghadap keatas, berhadap hadapan...wajah tersebut wajah seorang laki2 karena berpotongan rambut pendek tapi berjenggot... tidak ada keanehan diwajah tersebut hanya kondisi matanya tertutup semuanya normal.. yg paling membuat aku mengencingin kasur adalah setelah kepala tersebut menembus seluruhnya dari kayu alas tempat tidur diatas dengan perlahan sekali...dimana mulai lehernya tidak kelihatan, yg ada hanyalah batang tenggorokan dan beserta sesuatu yg melingkar2 dan berlendir menggantung ditenggorokan tersebut, yang terakhir baru kusadari itu adalah ususnya...seperti masih tersaangkut diaatas kayu dan masih menggantung....senter tetap menyala menghadap keatas karena aku sama sekali tidak bisa bergerak dan bersuara.. hanya mata yg tetap melotot dan mulut yg ternganga serta air kencing yg tetap mengucur.
Saat terakhir yg kuingat adalah ketika usus tersebut lolos seluruhnya dari kayu diatas, seperti daging atau usus yg dijual dipasar2 ketika pengaitnya dilepas, brukk langsung jatuh menimpa wajahku...Nah saat itulah lsg aku tidak ingat apa2 lagi alias Pingsan...
Ketika sadar hari sudah siang dan aku sudah berpindah ke rumah tetangga digendong oleh abangku yg saking takut dan bingung karena aku tidak sadarkan diri sampai pagi. celana sudah ditukar dgn sarung karena sudah basah oleh air kencing...
Hari itu aku lsg menderita demam yg tinggi dan tidak bisa berbicara sampai 2 hari dan lsg dibawa ke puskesmas.. setelah hari ketiga baru demam turun dan baru bisa berbicara dan menceritakan semua kejadian tersebut ke abang dan ibuku...dengan bukti tempat tidur yg masih basah dan bau kencing, lampu senter yg dalam posisi on tapi sudah redup karena kehabisan baterai serta ....... kayu pembatas tempat tidur atas yg basah berlendir, maka tidak ada yg berani memindahkan perabotan yg tersisa yang memang tinggal ranjang tersebut dan sebuah kompor dan kuali yg selama beberapa hari terakhir kami gunakan untuk memasak mie instant..
 

Ini bukan cerita saya, ini adalah cerita teman saya ...
saya harap anda jangan takuttttt....

Pulang Pulang Bawa Oleh Oleh Pocong

Membawa buah tangan atau oleh-oleh sehabis pergi jauh adalah hal yang wajar dan sudah biasa, tapi kalau pulang bawa pocong
Ini baru luar binasa, eh luar biasa…

Perhatian ! Penulis tidak bertanggungjawab jika pembaca sekalian menjadi takut keluar malam-malam, setelah membaca cerita misteri atau cerita seram ini.
Ceritanya berawal ketika ada seorang pendengar sebuah radio yang menceritakan kisahnya diradio. Ketika dia pulang kerumahnya yang berada ditengah hutan, ada pohon besar yang tumbang. Sehingga dia harus memutar melewati jalan yang belum pernah dia lewati, saat itu sekitar jam 12 malam. Konon rumahnya yang berada di atas gunung terkenal “wingit” ( Bahasa Jawa yang artinya seram ).
Sekitar 100 meter dari rumahnya, dia mencium bau wangi yang menyengat. Spontan jantungnya berdebar-debar, hatinya ngga karuan. Kemudian terlihat sesosok putih diantara pepohonan, bentuknya besar dan panjang
Dengan segala keberanian dan mengontrol ketakutannya, dia datangi sosok putih itu dan…
Si penyiar radio jadi ngomel-ngomel ngga karuan, marahin si pembicara karena si penyiar sudah kadung tegang. Ternyata bau yang tadi dia cium, adalah bau wangi nangka tetangganya.
Dasar maling nangka !
Inspirasi : Ahmad Tis

Cerita Horror

Malam ini udara dingin sekali. Dua hari lagi hari raya Imlek akan tiba. Vivin yang sedang berdiri di halte, mengusap-usap telapak tangannya untuk mengusir dingin.

Sayup-sayup terdengar suara burung hantu di kejauhan. Vivin mengutuk bossnya dalam hati, karena memaksanya berangkat pada jam yang sangat tidak menyenangkan ini.

Vivin ditugaskan untuk mengantarkan sebuah paket ke sebuah gudang tua di ujung kota. Perjalanan ke sana memerlukan waktu sekitar setengah jam, dan satu-satunya jenis angkutan umum yang tersedia adalah bis bertingkat yang sudah tua dan jalannya lambat.

Setelah menunggu lama, akhirnya bis itu muncul. Vivin pun naik. Hanya Ada beberapa penumpang saja yang terlihat. Vivin terus melangkah menuju tangga karena dia memutuskan untuk duduk di tingkat atas saja. Tetapi langkahnya dihentikan oleh seorang nenek keriput yang duduk di dekat tangga.

Nenek itu berkata,"Jangan naik ke atas, nak. Di atas berbahaya." Vivin terkejut. Dia pernah mendengar kisah-kisah menyeramkan tentang bis bertingkat seperti yang pernah diceritakan teman-temannya. Karena Merasa ngeri, Vivin pun mengurungkan niatnya untuk naik ke atas. Setelah memilih sebuah bangku yang agak jauh, Vivin duduk sambil membayangkan hal-hal yang mengerikan yang mungkin terjadi.

Perjalanan 30 menit yang menegangkan itu pun akhirnya dapat dilalui. Vivin telah sampai di tempat tujuannya, ketika bis bertingkat itu berhenti di sebuah halte. Vivin turun sambil menarik nafas lega, sementara bis itu kembali melanjutkan perjalanannya.

Keesokan malamnya, satu malam sebelum malam Imlek, Vivin kembali Ditugaskan bossnya untuk mengantarkan sebuah paket lagi ke gudang yang sama. Vivin pun kembali berangkat menuju halte. Bis yang sama dengan bis yang kemarin muncul lagi. Vivin naik.

Penumpang bis yang terlihat hanya beberapa orang saja. Vivin lalu berjalan menuju tangga. Tetapi di sana Vivin kembali dihentikan oleh seorang nenek keriput yang duduk di dekat tangga. Nenek yang sama dengan yang kemarin.

Nenek itu berkata,"Jangan naik ke atas, nak. Di atas berbahaya." Vivin teringat dengan pengalamannya kemarin. Ia merasa takut dan memilih untuk duduk di sebuah bangku yang agak jauh dari tangga. Setelah 30 menit, bis bertingkat itu akhirnya berhenti di halte tempat tujuan Vivin. Vivin turun dengan perasaan lega. Dan bis itu pun melanjutkan perjalanan kembali.

Keesokan harinya, tepat pada malam Imlek, Vivin kembali diberi tugas Oleh bossnya untuk mengantarkan sebuah paket lagi ke gudang yang sama Dengan sebelumnya. Vivin menunggu bis di halte sambil melihat kesekelilingnya.

Suasana kota terlihat meriah. Lampion dan hiasan berwarna warni Menghiasi sudut-sudut jalan. Ketika bis bertingkat yang ditunggunya datang, Vivin naik. Bis itu adalah bis yang sama dengan yang kemarin.

Vivin melihat ke arah bangku di dekat tangga, dan benar saja, nenek yang sama dengan yang kemarin terlihat duduk di situ.

Vivin lalu mendekati nenek keriput itu.

Sebelum nenek itu berkata apa-apa, Vivin mendahuluinya, "Nek, apapun Yang akan Nenek katakan, saya tetap akan naik dan duduk di atas. Malam ini adalah malam Imlek dan suasana kota begitu meriahnya, saya tidak takut akan sesuatupun!"

Tanpa menunggu jawaban apa-apa dari nenek tua itu, Vivin lalu naik ke atas. Tidak ada penumpang satu orang pun di atas. Vivin memilih untuk duduk di dekat jendela, dan menunggu dengan perasaan tegang.

Tetapi hingga 30 menit berlalu, tidak terjadi apa-apa. Akhirnya Vivin sampai di tempat tujuan, dan bis itu berhenti di sebuah halte. Vivin turun dari tingkat atas dan mencari si nenek keriput didekat tangga.

Setelah bertemu, lalu Vivin bertanya, "Nek, kenapa sih, Nenek melarang penumpang untuk naik ke atas? Saya sudah mencoba sendiri, ternyata di atas tidak ada apa-apa yang membahayakan. Sebenarnya ada apa sih, nek?"

Sambil menunjukkan jarinya ke atas, nenek keriput itu menjawab, "Di atas berbahaya, nak. Tidak ada supirnya."

Cewek dan Anak Kecil

Hai.ini gw Dimas, gw akan menceritakan cerita nyata yg dikutip dari beberapa temn gw...

Dulu sekitar gw umur 14 Tahun gw msh SMP kelaz 3. Disana pasti ada yg pernah tau yg namanya Kegiatan Pramukal.Saya dan Teman teman saya berkemah di kuburan. Saya dan teman" menginap di Tenda dekat sekali dengan kuburan. Ketika itu sekitar jam 10.30 Salah 1 teman Setenda gw ngelihat ada cewe duduk di atas kuburan. Padahal disana itu gelap, tetapi mengapa ada cwe duduk di situ...Teman q merasa curiga. Cewe yg duduk di atas kuburan itu  membawa seorang anak kecil mungkin tuyul, soal nya botak sich...lalu jam 00.15 lewat kami sudah disuruh tidur di tenda...

Ehhh...ternyata cewek dan anak kecil tadi ada di tenda kami. kami pun ketakutan, tapi ada teman ku lagi  buang gas dan yg bikin lucu, cewek dan anak kecil itu lari terbirit- birit keluar dari tenda ...... hahhahaha :D

Trima kasih ya tu cerita misterius meskipun tidak menyeramkan ya maaf aja yg kupunya hanya itu...pertanyaannya siapakah wanita yg membawa cemara itu? gw akan mencari tau lagi tentang sekolah angker itu ^^ Trims...

Kamis, 04 November 2010

Aku Bertemu dengan Seorang Gadis

Awal nya dimulai dari , Ketika aku sedang berjalan-jalan ke kota yang tempat tinggal ku berada di jalan Kartini Tebing Tinggi . Aku tidak sengaja bertemu dengan seorang perempuan yang sangat cantik bagiku . Perempuan tersebut sedang duduk - duduk di sebuah kursi yang terbuat dari semen . Aku langsung berkenalan dengan perempuan tersebut dan yang membuat ku lebih senang , perempuan tersebut mengizinkan aku kenalan dengan dia dan dia memberitahukan nama nya kepada ku . Perempuan tersebut bernama Olivia Olivander. Kami pun saling mengobrol dan bercanda . Waktu pun tidak terasa , ternyata sudah tengah malam . Jadi, aku harus pulang dan aku pamitan dengan dia, lalu aku minta alamat rumah nya dan nomor Hp nya .

Keesokan Harinya
Aku datang ke rumah nya dan aku menemui seorang perempuan yang sudah tua kali, kurasa itu pasti ibu nya (aku ngomong dalam hati). Bu, betul kah ini rumah nya Olivia ?? dan ibu tua tersebut menjawab "ya, benar sekali, ini rumah nya Olivia, nak ". Kalau begitu bisakah saya bertemu dengan Olivia ??? dan ibu tua tersebut menjawab lagi "Maaf Nak, bukan kah Olivia Sebulan yang lalu sudah meninggal karena kecelakaan . Tapi Bu, semalam saya bertemu dengan Olivia . Berarti semalam saya bertemu dengan hantu nya Olivia donk ....

Bersambung ......